Meski Nikmat, 7 Makanan khas Betawi Ini Kian Langka Eksistensinya!

25 Jun 2022
Berhasil mengcopy link blog
Figure Blog
Untuk merayakan hari ulang tahun kota Jakarta, mari melihat beragam kuliner nikmatnya yang kini eksistensinya semakin sulit ditemukan!

Selamat ulang tahun, kota Jakarta!

Ibu kota negara Indonesia yang usianya menginjak hampir 5 abad ini punya beragam kuliner asli yang nggak boleh kamu lewatkan, seperti soto betawi, kerak telor, hingga gado-gado dan roti buaya. Namun, kali ini kita nggak akan membahas kuliner khasnya yang sudah populer. Kita akan melihat beragam kuliner khas Betawi atau khas kota Jakarta yang meskipun nikmat, namun eksistensinya sudah sulit ditemukan di era modern. 

1. Sayur Babanci

Sayur babanci diambil dari kata babah dan enci. Kuliner ini diberi nama babanci karena kuliner tidak dapat dikategorikan sebagai gulai, soto, maupun kari, meskipun menyerupai ketiganya.

Sayur babanci umumnya ditemukan saat hari raya seperti hari ulang tahun Jakarta, Idul Adha, maupun Idul Fitri. Namun, penyebab kelangkaannya bukan hanya penyajiannya yang jarang, tetapi juga langkanya beberapa bahan baku yang dibutuhkan untuk membuatnya. Sayur babanci memerlukan beberapa rempah seperti kedaung, botor, dan tal kuning. Selain itu, proses penyajiannya pun rumit dan harus benar-benar teliti. Akibatnya, eksistensinya mulai tergerus zaman dan mulai sulit ditemukan. Padahal, rasanya begitu nikmat dan khas karena penggunaan rempah yang berbeda dan rasanya yang mirip dengan gulai.

2. Bubur Ase

Bubur khas Betawi yang satu ini tergolong unik. Warnanya lebih hitam pekat dibandingkan bubur pada umumnya. Hal ini disebabkan karena penggunaan semur daging dan penambahan kentang pada buburnya. Menariknya lagi, bubur yang satu ini disajikan dalam keadaan dingin. Hal ini juga sejalan dengan namanya, yaitu ase, yang memiliki arti dingin.

Bubur ase memiliki topping yang agak berbeda dan cukup variatif bila dibandingkan bubur pada umumnya. Bubur ini punya topping berupa emping atau kerupuk, taburan teri goreng, dan asinan. Alhasil, bubur ini punya kombinasi rasa yang ramai, yakni gurih, asin, dan manis.

3. Gabus Pucung

Gabus pucung menggunakan dua bahan utama, yakni pucung atau yang umum dikenal sebagai keluak dan ikan gabus. Kuliner khas Betawi ini punya tampilan seperti rawon karena warnanya agak hitam. Kuliner ini punya rasa rempah yang begitu kuat berkat penggunaan keluak, ketumbar, daun serai, air jeruk nipis, dan bawang putih. 

4. Kue Sengkulun

Kue sengkulun punya tampilan yang begitu cantik. Warnanya merah muda dengan sedikit warna putih di pinggirnya. Kue sengkulun diolah dengan menggunakan tepung ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan gula pasir. Rasanya, sudah tentu manis dan gurih! Namun, untuk menikmatinya, kamu hanya bisa memperolehnya di saat-saat tertentu saja.

5. Kue Geplak

Kalau ada satu kue yang punya nama yang unik, mungkin kue ini salah satu juaranya. Kue geplak adalah kue yang dibuat dengan cara, tentu saja, digeplak atau dipukul. Kue ini menggunakan bahan utama beras yang sudah agak pera dan dicampur dengan parutan kelapa dan gula pasir yang sudah mengental. Kue yang gurih namun punya tekstur lembut umumnya ada di acara pernikahan adat masyarakat Betawi.

6. Sayur Besan

Kalau melihat namanya, maka kamu akan tahu kuliner khas Betawi ini biasanya disajikan saat apa. Tepat sekali, saat hari pernikahan!

Sayur besan adalah salah satu kuliner khas Betawi selain roti buaya dan dodol yang selalu ada saat acara pernikahan masyarakat Betawi. Kuliner ini melambangkan harapan dan juga harapan untuk orang tua mempelai.

Kuliner ini umumnya dibuat dengan bahan utama bernama terubuk, yaitu sejenis tanaman yang memiliki bentuk menyerupai tanaman tebu. Selain itu, bahan-bahan lain yang digunakan antara lain kentang, pesmol, petai, dan ebi. Meski penampilannya sekilas terlihat seperti sajian kari, namun rasanya lebih condong ke laksa.

7. Ali Bagente

Bukan, nama yang satu ini tentu saja bukan nama orang, melainkan nama sebuah kue khas Betawi. Ali bagente dibuat dengan menggunakan bahan baku yang cukup unik, yakni menggunaka kerak atau sisa nasi yang menempel di bawah kuali ketika memasak nasi. Kerak-kerak yang dikumpulkan ini pun kemudian dikeringkan, lalu disirami gula merah cair. Rasanya? Manis-manis renyah!

Sebagai Ibu Kota Negara, ternyata Jakarta punya kuliner khas yang lebih beragam dari yang dikira ya! Sebagai generasi terkini, sudah tugas kita untuk terus melestarikan kuliner ini agar nggak tergerus zaman dan tetap bisa dipertahankan sebagai kekayaan budaya dan khazanah kuliner Jakarta dan Indonesia!